Tertarik? Hubungi kami sekarang
Untuk menghubungi kami, silakan isi formulir di sebelah kanan atau email langsung ke alamat di bawah ini
sales@senecaesg.com-->
Industri logistik sangat penting bagi masyarakat modern, karena industri ini bertanggung jawab atas pergerakan barang di seluruh dunia. Namun, industri ini juga merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca, yang berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi menyumbang sekitar 23% emisi karbon dioksida (CO2) terkait energi global, dengan transportasi angkutan jalan raya bertanggung jawab atas sebagian besar emisi ini.
Laporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai manajemen jejak karbon untuk perusahaan logistik. Laporan ini dimulai dengan membahas situasi emisi karbon saat ini di industri logistik, diikuti dengan penjelasan rinci tentang cara menghitung emisi karbon. Laporan ini kemudian memberikan panduan untuk mengungkapkan dan mengelola emisi karbon dengan benar.
Situasi Terkini Emisi Karbon yang Dicemari oleh Perusahaan Logistik
Industri logistik bertanggung jawab atas pergerakan barang di seluruh dunia, yang melibatkan penggunaan berbagai moda transportasi seperti kapal, truk, kereta api, dan pesawat terbang. Namun, moda transportasi ini juga bertanggung jawab atas emisi karbon dalam jumlah yang signifikan. Pada tahun 2019, emisi CO2 global dari sektor transportasi mencapai rekor tertinggi sebesar 7,7 Gt, dengan transportasi angkutan jalan raya menyumbang sekitar 40% dari emisi ini.
Industri logistik juga menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari konsumen, pemerintah, dan investor untuk mengurangi emisi karbon. Konsumen semakin sadar akan dampak lingkungan dari produk yang mereka beli dan menuntut pilihan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pemerintah menerapkan peraturan untuk mengurangi emisi karbon, dan investor mempertimbangkan jejak karbon perusahaan ketika membuat keputusan investasi.
Menanggapi tantangan-tantangan ini, perusahaan-perusahaan logistik mengadopsi berbagai langkah untuk mengurangi emisi karbon mereka. Langkah-langkah ini termasuk penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, optimalisasi rute transportasi, penggunaan kendaraan listrik, dan adopsi bahan kemasan yang berkelanjutan. Namun, langkah-langkah ini tidak cukup untuk mencapai pengurangan emisi karbon yang dibutuhkan. Oleh karena itu, perusahaan logistik perlu mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif untuk manajemen jejak karbon.
Metodologi Perhitungan Jejak Karbon untuk Perusahaan Logistik
Cakupan 1, 2, dan 3 Emisi
Langkah pertama dalam menghitung jejak karbon adalah mengidentifikasi sumber emisi. Protokol Gas Rumah Kaca (GRK) mengkategorikan emisi ke dalam tiga cakupan. Emisi Lingkup 1 adalah emisi langsung dari sumber yang dikendalikan oleh perusahaan, seperti pembakaran bahan bakar pada kendaraan milik perusahaan. Emisi lingkup 2 adalah emisi tidak langsung dari konsumsi listrik, panas, atau uap yang dibeli. Emisi cakupan 3 adalah emisi tidak langsung dari aktivitas di luar kendali perusahaan, seperti emisi dari produksi barang atau jasa yang dibeli.
Dalam bidang logistik, emisi lingkup 1 biasanya berasal dari kendaraan yang dimiliki atau disewa, sedangkan emisi lingkup 2 berasal dari konsumsi listrik di gudang, kantor, dan fasilitas lainnya. Emisi lingkup 3 dapat berasal dari berbagai sumber.
Faktor Emisi Karbon
Faktor emisi karbon digunakan untuk menghitung emisi karbon berdasarkan jumlah bahan bakar yang digunakan atau jarak yang ditempuh. Faktor emisi karbon dihitung dengan menggunakan data kandungan karbon dari setiap jenis bahan bakar dan efisiensi energi dari setiap moda transportasi. Untuk transportasi darat, faktor emisi karbon bergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan, konsumsi bahan bakar kendaraan, dan jarak yang ditempuh. Faktor emisi karbon untuk transportasi udara jauh lebih tinggi daripada transportasi darat atau laut karena konsumsi bahan bakar yang tinggi dan ketinggian.
Pengumpulan Data
Mengumpulkan data yang akurat sangat penting untuk menghitung jejak karbon secara akurat. Perusahaan logistik harus mengumpulkan data tentang konsumsi bahan bakar, jarak tempuh, dan parameter lain yang relevan. Data ini dapat dikumpulkan melalui tanda terima bahan bakar, catatan pemeliharaan, dan data telematika dari kendaraan. Selain itu, perusahaan logistik dapat menggunakan perangkat lunak untuk mengotomatiskan alur kerja pengumpulan data, melacak emisi, dan mengelola jejak karbon.
Alokasi Emisi
Setelah data dikumpulkan, perlu untuk mengalokasikan emisi ke setiap kegiatan atau produk. Hal ini dapat menjadi tugas yang menantang di bidang logistik karena kompleksitas rantai pasokan. Perusahaan logistik harus mengalokasikan emisi ke setiap moda transportasi, jenis bahan bakar yang digunakan, dan jarak tempuh.
Alat Penghitungan Jejak Karbon
Ada berbagai alat penghitungan jejak karbon yang tersedia untuk perusahaan logistik. Protokol GRK menyediakan kerangka kerja untuk menghitung emisi karbon. Smart Freight Centre telah mengembangkan Kerangka Kerja GLEC, yang menyediakan metodologi standar untuk menghitung emisi di seluruh rantai pasokan. Kerangka Kerja GLEC digunakan oleh perusahaan logistik, pengirim, dan pengangkut untuk melaporkan emisi karbon.
Manajemen Jejak Karbon untuk Perusahaan Logistik
Langkah pertama dalam mengelola jejak karbon adalah mengungkapkannya. Perusahaan logistik perlu mengukur emisi GRK mereka, termasuk yang berasal dari transportasi, penyimpanan, dan penanganan barang. Smart Freight Centre menyediakan kerangka kerja standar untuk mengukur dan melaporkan emisi GRK dari operasi logistik, yang disebut Kerangka Kerja Dewan Emisi Logistik Global (GLEC). Kerangka kerja GLEC memungkinkan perusahaan logistik untuk menghitung dan melaporkan jejak karbon mereka secara konsisten, dengan menggunakan metode yang diakui secara internasional.
Setelah jejak karbon diukur dan diungkapkan, perusahaan logistik dapat mengambil langkah-langkah untuk mengelolanya. Berikut ini adalah beberapa strategi utama untuk mengelola jejak karbon:
Mengurangi emisi karbon dari transportasi Perusahaan logistik dapat mengurangi emisi dari transportasi dengan mengoptimalkan rute, mengurangi jarak tempuh kosong, menggunakan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, dan beralih ke bahan bakar alternatif seperti listrik atau bahan bakar nabati.
Meningkatkan efisiensi energi Efisiensi energi dapat ditingkatkan dengan menggunakan peralatan hemat energi, mengadopsi sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, dan mengurangi konsumsi energi di gudang dan pusat distribusi.
Gunakan bahan dan kemasan rendah karbon Menggunakan bahan dan kemasan rendah karbon dapat secara signifikan mengurangi emisi karbon di seluruh rantai pasokan. Perusahaan logistik dapat bekerja sama dengan pemasok untuk mendapatkan bahan yang berkelanjutan dan menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang atau terurai secara hayati.
Menerapkan praktik-praktik berkelanjutan Perusahaan logistik dapat menerapkan praktik-praktik berkelanjutan seperti pengurangan limbah, daur ulang, dan konservasi air untuk meminimalkan dampak lingkungan.
Mengimbangi Jejak Karbon Meskipun mengurangi emisi sangat penting, namun tidak selalu memungkinkan untuk menghilangkan semua emisi. Perusahaan logistik dapat mengimbangi emisi yang tersisa dengan berinvestasi dalam proyek-proyek pengurangan gas rumah kaca seperti reboisasi, energi terbarukan, dan proyek efisiensi energi. Pengimbangan karbon memungkinkan perusahaan logistik untuk menyeimbangkan emisi karbon mereka dengan mendukung proyek-proyek yang mengurangi emisi di tempat lain.
Kesimpulan
Kesimpulannya, industri logistik bertanggung jawab atas pergerakan barang di seluruh dunia, tetapi juga merupakan kontributor yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca global. Konsumen, pemerintah, dan investor menyerukan pengurangan emisi karbon dalam operasi logistik, dan perusahaan logistik mengambil langkah-langkah untuk meresponsnya. Langkah pertama dalam mengelola jejak karbon adalah dengan mengungkapkannya, dan perusahaan logistik dapat menggunakan Protokol Gas Rumah Kaca dan Kerangka Kerja GLEC untuk mengukur dan melaporkan emisi karbon mereka. Perusahaan logistik kemudian dapat mengambil langkah-langkah untuk mengelola jejak karbon mereka, seperti mengurangi emisi karbon dari transportasi, meningkatkan efisiensi energi, menggunakan bahan dan kemasan rendah karbon, dan menerapkan praktik berkelanjutan. Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif terhadap manajemen jejak karbon, perusahaan logistik dapat menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan berkontribusi terhadap masa depan yang berkelanjutan.
Sumber:
https://www.iea.org/fuels-and-technologies
https://sciencebasedtargets.org/resources/legacy/2018/05/SBT-transport-guidance-Final.pdf
Pantau kinerja ESG di portofolio, buat kerangka ESG Anda sendiri, dan ambil keputusan bisnis yang lebih baik.
Untuk menghubungi kami, silakan isi formulir di sebelah kanan atau email langsung ke alamat di bawah ini
sales@senecaesg.com7 Straits View, Marina One East Tower, #05-01, Singapura 018936
+65 6223 8888
Gustav Mahlerplein 2 Amsterdam, Belanda 1082 MA
(+31) 6 4817 3634
77 Dunhua South Road, 7F Section 2, Distrik Da'an Taipei City, Taiwan 106414
(+886) 02 2706 2108
Viet Tower 1, Thai Ha, Dong Da Hanoi, Vietnam 100000
(+84) 936 075 490
Av. Santo Toribio 143,
San Isidro, Lima, Peru, 15073
(+51) 951 722 377
1-4-20 Nishikicho, Tachikawa City, Tokyo 190-0022